Dua Wajah Strategi Keamanan Baru AS

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggunakan peluncuran Strategi Keamanan Nasional pertamanya Senin (18/12/2017) untuk memuji kerja sama dengan Rusia. Setelah membuka teks yang menyindir Rusia dan Tiongkok sebagai kekuatan revisionis yang bertekad menggulingkan kembali kepentingan AS, Trump memuji kerja sama kontraterorisme yang baru-baru ini dijalin antara Moskow dan Washington.

Trump mengklaim petunjuk CIA tentang rencana serangan teror di katedral di kota kelahiran Vladimir Putin, Saint Petersburg, baru-baru ini telah mencegah kematian ribuan orang. “Mereka dapat menangkap teroris ini sebelum kejadian tanpa kehilangan nyawa dan itu adalah hal yang hebat, dan bagaimana seharusnya bekerja,” kata Trump sambil menawarkan prospek hubungan yang lebih baik.

Nada perdamaian terhadap Putin sangat bertolak belakang dengan strategi 68 halaman yang disusun pembantu-pembantu utamanya dan dirancang untuk menjadi kerangka pendekatan pemerintahan Trump terhadap dunia. Teks itu menggunakan bahasa sangat menggigit untuk membingkai Beijing dan Moskow sebagai pesaing global. “Tiongkok dan Rusia menantang kekuatan, pengaruh, dan kepentingan Amerika, mencoba mengikis keamanan dan kemakmuran Amerika,” kata dokumen tersebut.

Rusia dianggap akan melemahkan pengaruh AS di dunia dan memisahkan AS dari sekutu mereka, sedangkan senjata nuklir Rusia dianggap ancaman eksistensial paling signifikan ke AS. Strategi tersebut juga menuduh Tiongkok mencari posisi menggantikan AS di Asia, mencatat sejumlah keluhan AS, dari defisit hingga pencurian data untuk menyebarkan ciri sistem otoriter. “Bertentangan dengan harapan kami, Tiongkok mem-perluas kekuasaan dengan mengorbankan kedaulatan orang lain,” kata dia.

Juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok menanggapi dengan tajam, menyebut hal itu benar-benar egois bagi sebuah negara untuk mengklaim kepentingan sendiri lebih tinggi daripada kepentingan negara lain dan kepentingan bersama masya-rakat internasional. “Mentalitas ini hanya akan menimbulkan isolasi,” tambah juru bicara itu. Dokumen ‘America first’ yang dibuat dalam 11 bulan itu sebelumnya diluncurkan tanpa masalah dan dijadikan pedoman, bukan perintah doktrinal.

Kontroversi America First
Sepanjang tahun ini, pemberitaan mengenai Presiden Trump memang banyak diwarnai kontroversi. Kabinet yang dia bentuk tampak belum solid. Beberapa anggota kabinet dipecat dan mengundurkan diri hanya beberapa bulan setelah menduduki posisinya. Bahkan, penasihat keamanan nasionalnya, Michael Flynn, hanya bertahan 24 hari saat mengundurkan diri karena kasus dugaan campur tangan Rusia dalam pilpres. Jaksa Agung Jeff Sessions juga mundur. Sementara Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) James Comey mendadak dipecat Di dalam Gedung Putih, juru bicara presiden beberapa kali harus berganti.

Berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya, wartawan Gedung Putih pada era Trump jarang mendapat penjelasan dari juru bicara lewat jumpa pers. Trump belum berdamai dengan media dan lebih mengandalkan media sosial untuk menyampaikan berbagai hal, termasuk merespons isu-isu penting. Perilaku Presiden Trump yang emosional dan kicauan-kicauannya di Twitter menjadi catatan tersendiri pada tahun pertama pemerintahannya.

Hubungan Amerika Serikat (AS) dengan para sekutunya mengalami banyak cobaan. Trump pernah menuduh Kanselir Jerman Angela Merkel dan PM Inggris Theresa May tidak becus memerangi ekstremis. Bahkan, kepada PM Inggris, dia membuat gara-gara dengan me-retweet unggahan video dalam akun Twitter seorang aktivis ekstrem kanan di Inggris yang sedang dalam proses pengadilan karena menyebarkan gambar hoaks. Pemerintah Inggris menyampaikan protes lewat kedutaannya di Washington. Namun, Trump malah membalas PM May dengan mengatakan agar dia fokus saja mengurus terorisme di negaranya.

Trump masih juga mengungkit-ungkit kontribusi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam pembayaran iuran. Saat berpidato tentang strategi keamanan nasional, beberapa hari lalu, dia spontan menagih “utang” anggota NATO kepada AS.

Gaya spontan Trump sering kali menciptakan kebingungan dan sering dipandang sebagai sikap AS yang tidak konsisten. Para pembantunya tak jarang menjadi tampak tak berdaya menghadapi alur pikiran Trump yang berubah-ubah. Diplomasi yang dibangun cenderung tidak taktis dan rawan menciptakan masalah. Kebijakan America First bertabrakan dengan diplomasi multilateral yang sudah dibangun sebelumnya. Keputusannya untuk keluar dari kesepakatan iklim Paris mengalami banyak ujian. Demikian pula keinginannya untuk membatalkan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) yang beranggotakan 12 negara, termasuk AS.

Trump menghadapi perlawanan keras di Timur Tengah. Rencananya untuk membatalkan kesepakatan nuklir Iran mendapat tentangan keras. Di bawah Trump, posisi AS semakin terisolasi. Sementara masalah lama belum selesai, dia malah menyulut masalah baru. Pengakuan atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel, beberapa pekan lalu, menimbulkan dampak besar. Sampai dua pekan setelah keputusan itu dibuat, demo-demo masih terus berlangsung di banyak tempat, termasuk unjuk rasa yang memakan korban.

Di luar isu Palestina, nuklir Korea Utara jadi bagian penting dari masalah yang harus diha-dapi pemerintahan Trump. Pemimpin muda Korut, Kim Jong Un, tak pernah surut oleh gertak dan ancaman Trump. Sanksi ekonomi yang dijatuhkan selama ini tak menghentikan Kim Jong Un untuk terus melanjut-kan percobaan rudal balistik. Bahkan. tahun ini terhitung sudah 20 kali percobaan dilakukan, di antaranya peluncuran yang membuat ketar-ketir tetangganya, Jepang, karena rudal melintas melewati negara itu. Dan tampaknya AS belum punya solusi menghadapi pemimpin Korut yang keras kepala.

Konsentrasi pemerintahan Trump banyak terganggu dengan sejumlah isu yang tersisa dari pilpres tahun lalu. Sampai hampir setahun masa pemerintahannya, soal campur tangan Rusia dalam kampanye, misalnya, masih membayangi. Penyidikan atas dugaan kolusi dengan Rusia masih berjalan, sedangkan perpecahan akibat pilpres yang keras sepertinya belum selesai.

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *