Degatotisasi TNI Jelang Pemilu 2019

Setelah menjegal pengangkatan Asisten Operasi Kasad, Mayjen Sudirman menjadi Pangkostrad, lalu mencopot Mayjen Ilyas Alamsyah Harahap dari jabatan KaBAIS TNI, kini jabatan Kasad yang dipegang oleh Jenderal Mulyono, nampaknya sedang diincar.

Mulyono sendiri, kalau berdasar kan umur, baru akan melepas jabatan Kasad pada 12 Januari 2019, pas ketika usianya 58 tahun. Tapi melihat pola konsolidasi di lingkunganTNI saat ini, bisa jadi ia akan diganti sewaktu-waktu, tanpa menunggu masa dinasnya habis. Masalahnya sekarang, orang kedua di AD (Wakasad), yang dijabat Letjen Tatang Sulaiman dianggap sebagai orang Gatot. Besar kemungkinan, ia akan segera dicopot dan diganti dengan orang yang lebih dekat ke Jokowi.

Tanda-tanda kearah itu jelas terlihat dengan terjadinya percepatan promosi jabatan dan pangkat Mayjend Andika Perkasa, menjadi Komandan Kodiklat TNI-AD melalui Skep Panglima TNI tanggal 4 januari 2018. Andika tak lain adalah menantu dari Jenderal (Purn) Hendropriyono, mantan Kepala BIN, yang sejak kampanye pilpres 2019, hingga saat ini menjadi salah satu inner circle Presiden Jokowi.

Usia Andika saat ini baru 53 tahun. Sebetulnya ia salah satu perwira cemerlang dari lulusan Akabri 1987. Karir perwira Koppasus ini terus meroket hingga ditunjuk menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pada Oktober 2014, di awal masa pemerintahan Jokowi.

Tapi pada tahun 2016, ia digeser oleh Panglima TNI Gatot Nurmatyo, menjadi Pangdam XII/Tanjungpura yang berkedudukan di Pontianak, Kalimantan Barat. Banyak kalangan waktu itu menilai Andika saat itu sudah “tersisih” dari persaingan para bintang di AD. Karena dia tidak dipromosikan kejabatan yang prestisius seperti Komandan Jenderal Kopassus atau sebagai pangdam di Jawa.

Setelah Gatot dicopot, tiba-tiba Andika dipromosikan menjadi Dankodiklatad, dan otomatis meraih pangkat Letnan Jenderal. Akibatnya, praktis saat ini hanya ada dua perwira berpangkat letnan jenderal di TNI-AD yang berpeluang besar menduduki posisi Kasad jika sewaktu-waktu Kasad Jenderal Mulyono diganti. Yaitu Andika Perkasa dan Wakasad, Letjend Tatang Sulaiman. Tatang sebetulnya baru dipromosikan menjadi Wakasad per Oktober 2017. Tapi, sekali lagi, karena dia dianggap sebagai orang Gatot, cepat atau lambat Tantang yang masa dinasnya masih 5 tahun lagi, bakal dicopot dari posisi Wakasad.

Sebetulnya masih ada satu lagi Pati AD berbintang tiga yang berpeluang menjadi Kasad. Yaitu Pangkostrad baru, Letjen Agus Kriswanto. Ia tak lain adalah Dan kodiklatad yang posisinya digantikan oleh Andika. Tapi Agus akan pensiun pada Juli 2018. Jadi kecil kemungkinan seorang pati yang masa dinasnya tinggal 6 bulan lagi dipromosikan menjadi Wakasad atau Kasad.

Pertanyaannya sekarang, apakah Andika akan melenggang tanpa pesaing kuat menuju kursi Wakasad atau Kasad setelah di posisi terbarunya sekarang? Belum tentu juga. Pasalnya, sebelum atau pas bulan Juli mendatang pasti akan ada sosok Pangkostrad baru. Dia bisa diambil dari pati berbintang tiga atau pati bintang dua. Jika dari pati berbintang tiga, stok yang paling mungkin adalah Andika sendiri. Tapi nampaknya Andika sulit menempati posisi tersebut. Sebab, sepanjang karirnya dia belum pernah bertugas di Kostrad. Andika adalah perwira murni Korps Baret Merah. Sementara di kalangan prajurit Kostrad belakangan menguat pandangan bahwa panglima mereka harus berasal dari korps cakra, sebutan baru korps Baret Hijau.

Menurut sebuah sumber di TNI, sejak zaman Gatot Nurmatyo sebetulnya ada tiga pati berpangkat mayor jenderal yang sudah dielus-elus oleh wanjakti Mabes TNI untuk diangkat menjadi Pangkostrad. Pertama Sudirman (AsopKasad), AM Putranto (Pangdam Sriwijaya) dan Doni Monardo (waktu itu masih menjabat Pangdam Pattimura).

Dari tiga mayjen ini, Doni yang pertama tersisih. Ia hanya mendapat mutasi dari Pangdam Pattimura ke Pangdam Siliwangi. Kemudian dalam rapat wanjakti berikutnya AM Putranto yang tersisih. Sudirman sendiri akhirnya gagal jadi Pangkostrad karena skep pengangkatannya yang diteken Gatot Nurmantyo belakangan dibatalkan oleh Panglima TNI baru, Marsekal Hadi Tjahjanto.

Praktis, dalam 6 bulan kedepan, Presiden Jokowi dan Panglima TNI akan mematangkan siapa perwira yang paling layak menjadi Pangkostrad. Tidak tertutup kemungkinan akan muncul nama-nama baru masuk dalam bursa. Tapi menurut sebuah sumber di Istana, Doni Monardo adalah sosok yang paling disorot oleh Jokowi. Doni adalah lulusan Akabri 1985, usianya pada Mei 2018 masih 55 tahun. Kalau melihat track recordnya, karir Doni yang juga berasal dari Korps Baret Merah ini bahkan lebih cemerlang dari Andika.

Beberapa kelebihan Doni dalam persaingan menuju jabatan Pangkostrtad, Wakasad atau Kasad, adalah Doni pernah menjadi komandan brigade di Kostrad (Brigif 3/Kostrad yang bekedudukan di Sulawesi Selatan). Sebelumnya Doni juga pernah menjadi komandan batalion raider (Yon 900/ Raider/Kodam Udayana). Sedangkan Andika tidak pernah menjadi komandan satuan-satuan tempur di luar Kopassus.

Pada tahun 2011, Doni menjadi Wadanjen Kopassus. Kemudian dipromosikan menjadi Danpaspampres (2012). Setelah ia menjadi Danjen Kopassus (2014). Sementara Andika tidak pemah menjadi Wadanjen atau Danjen di Kopassus. Setelah menjadi Danjen Kopassus, Doni terpental ke Maluku, menjadi Pangdam Pattimura.

Tapi di penghujung masa jabatan Gatot ia ditarik ke Jawa untuk menempati posisi prestisius, Pangdam Siliwangi. Praktis, saat ini Doni adalah satu-satunya mayor jenderal yang pernah dua kali menjadi Pangdam. Sementara Andika, hanya satu kali menjabat pangdam.

Masih menurut sebuah sumber di Istana, pada rapat wanjakti Mabes TNI, Desember 2017, Doni adalah perwira yang namanya dititipkan Jokowi kepada Gatot untuk diangkat menjadi Pangkostrad. Tapi yang diangkat ternyata orang lain. Di situlah Jokowi murka dan langsung memutuskan untuk mencopot Gatot sebelum masa dinasnya habis per Maret 2018.

Doni adalah komandan paspampres pada masa peralihan Presiden SBY ke Jokowi. Pada awal Desember 2017, Jokowi berkunjung ke Bandung dan bertemu Doni. Waktu itu Doni bercerita bahwa Kodam Siliwangi dan Pemprov Jabar akan mencanangkan Proyek Revitalisasi Sungai Citarum pada pertengahan Januari 2018. Proyek pembersihan sungai yang dinamai “Citarum Harum” akan digarap oleh prajurit Kodam Siliwangi. Targetnya dalam 6 bulan, sungai Citarum bersih dari sampah. Pada saat bersamaan akan dilakukan reboisasi di sepanjang daerah aliran sungai.

Teryata Jokowi tertarik dan bemiat menjadikan proyek tersebut sebagai proyek pemerintah pusat dan akan menjadi percontohan untuk dilaksanakan oleh prajurit-prajurit TNI di wilayah lain. Kabarya, Jokowi akan mengeluarkan Keppres revitalisasi Sungai Citarum pada pertengahan Januari ini dan mengangkat Doni sebagai kepala proyeknya. Sampai di situ, Doni nampaknya bakal dipertahankan sebagai Pangdam Siliwangi. Tapi yang jelas, Doni sekarang masuk dalam radar Jokowi. la adalah kuda hitam yang sewaktu-waktu bisa dilejitkan Jokowi kepucuk pimpinan AD sebelum pilpres 2019.

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *