Alfian Tanjung Bicara Anti Komunis di Vonis 2 Tahun

<strong>SURABAYA</strong> – Majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya menjatuhkan vonis 2 tahun penjara kepada Ustadz Muhammad Alfian Tanjung. Hakim menilai Alfian terbukti bersalah melakukan ujaran kebencian saat memberi ceramah di Masjid A1 Mujahidin, Tanjung Perak. Surabaya, pada Februari lalu. “Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi ras dan etnis,” kata ketua majelis hakim, Dedi Ferdiman, kemarin.

Alfian dinyatakan terbukti melanggar Pasal 16 juncto Pasal 4 huruf b butir ke-2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Dalam sidang tersebut, majelis hakim juga memerintahkan penahanan Alfian. Vonis yang dijatuhkan majelis hakim itu lebih ringan satu tahun dibanding tuntutan jaksa. Jaksa penuntut umum meminta Alfian dihukum tiga tahun penjara.

Meski mendapat vonis lebih ringan daripada tuntutan, Alfian dan tim kuasa hukumnya merasa keberatan. “Saya menyatakan banding,” ujar Alfian sesaat setelah hakim membacakan amar putusan. Sejumlah pendukung Alfian yang menghadiri sidang menyambutnya dengan teriakan takbir. Sementara itu, jaksa dari Kejaksaan Negeri Tanjung Perak menyatakan pikir-pikir.

Sidang kemarin diwarnai unjuk rasa di depan Pengadilan Negeri Surabaya oleh ratusan pendukung Alfian. Mereka terdiri sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam asal pelbagai daerah. Di antara massa yang mengenakan baju putih-putih itu, beberapa orang berorasi di lingkungan pengadilan. Massa menyatakan Alfian tidak bersalah. Ia pun dianggap sebagai figur perlawanan terhadap komunis di Indonesia. Mereka, yang sebagian besar berasal dari Front Pembela Islam, kemudian membubarkan diri setelah tim kuasa hukum terdakwa menjelaskan hasil sidang putusan.

Kasus ini bermula dari sebuah video yang diunggah ke YouTube pada Februari 2017. Dalam video itu, Alfian memberi kuliah subuh di Masjid A1 Mujahidin. Saat itu, ia sedang memberikan materi Mewaspadai Komunis dan membeberkan tentang antek Partai Komunis Indonesia serta Cina.

Alfian juga pernah menyatakan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki sebagai antek PKI. Penyidik Markas Besar Kepolisian RI menangkapnya pada akhir Mei lalu. Satu hari setelah ditangkap, Alfian ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rumah Tahanan Badan Reserse Kriminal Polri. Selanjutnya, pada awal September lalu, Pengadilan Negeri Surabaya menerima eksepsi Alfian dan membebaskannya. Namun, beberapa hari kemudian, polisi kembali menangkap Alfian atas kasus yang berbeda. Ia ditangkap atas laporan seorang warga Surabaya yang menyatakan isi ceramahnya di YouTube mengandung ujaran kebencian. Kasus itulah yang diputus dalam sidang kemarin.

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *