Al Quds di Ujung Telepon Trump

Normal baru atau the new normal mungkin istilah itu dengan tepat menggambarkan situasi dunia pada tahun 2017 yang kurang dari dua minggu lagi akan berakhir. Lebih kurangnya, the new normal adalah situasi yang dulu dianggap anomali, tak lazim, dan tidak umum, tetapi kini menjadi hal biasa atau kenyataan yang harus dihadapi setiap hari. Salah satu bentuk normal baru tersebut, menurut Time edisi 18 November 2017, adalah “kegaduhan” yang ditimbulkan Donald Trump, presiden ke-45 Amerika Serikat.

Disebutkan bahwa tak pernah ada sebelumnya Panglima Tertinggi AS mengeluarkan tuduhan liar dengan bahasa kasar kepada berbagai pihak lewat Twitter, Trump menyebut Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sebagai orang yang pendek dan gemuk.

Di era Trump pula, seorang Presiden AS “bersitegang” dengan pemimpin sekutu tradisional negara tersebut di belahan Eropa, yakni PM Inggris Theresa May dan Kanselir Jerman Angela Merkel. Trump dengan keras meminta Theresa May fokus pada masalah terorisme di dalam negeri sebagai respons atas kritikan PM Inggris terhadap Trump yang me-retweet video diskriminatif unggahan aktivis Ultranasionalis Inggris.

Terhadap Merkel yang meragukan kesetiaan AS sebagai sekutu, Trump lewat Twitter mengkritik habis-habisan surplus besar yang dinikmati oleh Jerman berkat perdagangan dengan AS’.

Satu lagi the new normal yang mungkin telah terjadi di era Trump adalah posisi AS yang kini sulit diterima sebagai mediator perdamaian Palestina-Israel. Gara-gara, Trump menyatakan AS mengakui Jerusalem (Al Quds) sebagai ibu kota Israel, sesuatu yang melanggar kesepakatan internasional bahwa status akhir Jerusalem harus ditentukan lewat negosiasi langsung Israel-Palestina. Meski tercantum dalam undang-undang di AS, pengakuan Jerusalem tak pernah diterapkan oleh presiden sebelum Trump.

Memang sejak Trump menjadi presiden, orang-orang di seluruh dunia, menurut Time, sambil tiduran di ranjang mereka, rutin di ujung telepon seluler untuk mencari tahu apakah pada hari tersebut Trump sudah kembali membuat kegaduhan lewat Twitter.

Pujian Sahabat Otokrat

Banyak dicerca, anehnya tak sedikit yang memuja. Di tengah kekagetan dunia internasional atas kemenangan Donald Trump, banyak yang menitip harap padanya, tak terkecuali dari Timur Tengah.

Meskipun beretorika anti-Muslim berencana melarang Umat Islam menginjakkan kaki di Amerika Serikat, sinis terhadap pengungsi Suriah, dan akan berkarib lebih dekat Israel ia masih memiliki banyak pendukung di Timur Tengah, terutama dari para tokoh pemerintahan otokrat.

Pemimpin dunia pertama yang menelepon Trump setelah kemenangannya adalah Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, mantan panglima yang mengatur kudeta militer pada tahun 2013 terhadap presiden terpilih secara sah dan konstitusional dari Ikhwanul Muslimin. Ribuan tewas selama masa transisi itu, dan lebih dari lima puluh ribu orang masuk bui, yang disebut Human Right Watch sebagai “pemenjaraan lawan politik terbesar dalam sejarah modern negara itu”.

Pada bulan September, Sisi bertemu baik dengan Trump maupun Hillary Clinton di New York saat ia menghadiri sidang Majelis Umum PBB. Hillary jelas posisinya. Selama perdebatan dengan Bernie Sanders dalam konvensi pencalonan presiden Partai Demokrat, ia menyebut telah terjadi “kediktatoran militer” di Mesir. Di sisi lain, Trump, setelah pertemuannya dengan Sisi, menyebutnya sebagai “seorang pria yang fantastis” dan menyebut antara dirinya dan Sisi “memiliki chemistry yang baik”. AS setiap tahunnya memberikan Mesir 1,5 miliar dolar AS, sebagian besar berupa bantuan militer.

Visi dunia Trump, seperti tertulis dalam situs web resminya, adalah untuk memprioritaskan stabilitas atas nilai-nilai demokrasi yang dapat memulai kediktatoran baru.

Dalam sebuah pernyataan setelah panggilan telepon pertama antara kedua pemimpin, kantor Sisi menyebut terpilihnya Trump akan “mengilhami semangat baru” dalam hubungan kedua negara dan Trump berjanji akan bertemu dengannya segera. Tidak ketinggalan ucapan selamat tweet dari para pemimpin di Timur Tengah dan Afrika Utara atas terpilihnya Trump. Bahkan, Pangeran Alwaleed bin Talal, yang pernah menyebut Trump sebagai ‘aib’ dan ‘tolol’ mengatakan sekarang saatnya untuk mengesampingkan perbedaan. Dalam cuitannya di Twitter, ia mengucapkan selamat pada Trump.

Sebelumnya pada akhir 2015, keduanya sempat perang kata-kata di media sosial itu. Alwaleed menyebut Trump tolol terkait ucapannya yang akan melarang Muslim masuk ke AS, yang ditimpali Trump dengan menyebut “Pangeran mabuk ingin mengatur politisi AS dengan uang bapaknya”.

Mazel tov, Trump?

Tidak ada ucapan selamat paling tulus selain dari para pemimpin Israel. Pada hari-hari terakhir menjelang pemilihan presiden AS, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan para menterinya untuk tutup mulut. Mengomentari baik Trump maupun Hillary sama sekali dilarang, terutama oleh para menteri berpengaruh. Ia tidak ingin mengulangi kejadian tahun 2012, ketika banyak orang di Israel dan AS merasa pemimpin Israel dan timnya condong ke calon Partai Republik Mitt Romney. Dampak politisnya dirasakan selama empat tahun setelahnya.

Sekarang setelah semua berakhir, Netanyahu dengan cepat pada Rabu pekan lalu menelepon Trump, presiden terpilih yang mendapuk diri sebagai teman sejati dari Negara Israel. “Kita akan bekerja sama untuk memajukan keamanan, stabilitas, dan perdamaian di wilayah ini. Hubungan yang kuat antara AS dan Israel didasarkan pada nilai-nilai bersama, kepentingan bersama, dan tujuan bersama,” ujarnya, usai saling berbicara melalui sambungan telepon. Trump mengundangnya segera ke AS setelah dia dilantik Januari mendatang.

The Washington Post menilai larangan Netanyahu bisa dibaca sebagai Israel tidak benar-benar yakin pada awalnya bahwa Trump akan menang, atau meragukan kesungguhan ucapannya. Benar, mereka menyukai retorika populis Trump, terutama saat berbicara keras melawan “terorisme Islam”. Namun, mereka juga tak melupakan bahwa beberapa pendukung utamanya juga pernah berbicara antiSemitisme di media.

Kini, keraguan itu sirna. Walikota Yerusalem Nir Barkat bersorak,”Mazel tov, Tuan Presiden!” Mazel tov adalah frase Yahudi untuk mengekspresikan ucapan selamat atau ingin seseorang meraih keberuntungan. Ia kemudian mengingatkan Trump pada janjinya untuk memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, yang selama ini diklaim Israel sebagai ibu kota negara.

Hal yang sama ditegaskan penasihat Trump untuk isu Israel dan Timur Tengah, David Friedman Jerusalem Post. “Itu adalah janji kampanye dan tak ada niat untuk menyimpannya,” kata Friedman. Di mata Menteri Pendidikan yang juga politisi Israel, Naftali Bennett, kemenangan Trump bak terompet kematian bagi Palestina. “Era negara Palestina berakhir,” kata Bennett.

Namun perayaan  Mazel Tov harus ditundak karena AS dipermalukan di DK PBB, dari 15 anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), 14 di antaranya mendukung draft resolusi soal penolakan pengakuan status Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Malki menyatakan, pimpinan Palestina akan meminta anggota-anggota Sidang Umum PBB mengambil suara terhadap draf yang sama dengan yang diajukan Mesir ke DK PBB. Hal tersebut karena AS tak bisa mem-veto Sidang Umum PBB. Pemungutan suara di Sidang Umum PBB diajukan Palestina merujuk pada Resolusi Sidang Umum PBB 377A. Resolusi itu mensyaratkan, jika ada resolusi yang tak bisa dicapai DK PBB sebab tak ada kesatuan suara anggota tetap, rancangan resolusi itu bisa dibawa ke Sidang Umum PBB.

Resolusi yang dihasilkan Sidang Umum nantinya akan memiliki efek yang sama dengan resolusi DK PBB. Al-Maliki menambahkan, hal tersebut membentuk konsensus internasional menolak keputusan AS dan meminta pembatalan putusan tersebut. Resolusi tersebut juga mendesak Israel menghentikan pembangunan hunian ilegal dan mencegah negara itu mengubah demografi dan status Yerusalem Timur.

Jaka Setiawan, Chief Strategic Studies and Public Policy PUSHAMI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *